June 15, 2007

Apa yg kan terjadi, pastinya kan terjadi. Biar waktu yg menghakimi….

Filed under: Curhat — satriadarma @ 8:23 pm

Malam ini saya nggak pulang kekostan… habis ijin keluar sebentar tadi siang jam 3an langsung cabut ke lpkia soalnya hari ini anak2 mahasiswa saya di mata kuliah Praktikum Web lagi ada UTS (ujian tengah semester), dan kebetulan kelas ujian mereka (lab.Kom 6 dan 7) belum sempat saya setting databasenya buat keperluan ujian. Jadi ya secara harus diurus dulu, udah gitu kan karena ini ujian di Lab, hasil ujian mereka harus saya backup ke folder dosen saya diserver tiap2 Lab di lpkia. Mereka ujian jam 16.40, beberapa menit saya datang ujian baru dimulai… yah, untunglah masih kekejar juga. Langsung aja disetupin database MySQL nya… tinggal jalanin query ini :

source \\s25\f$\satriadarma\sourceuts\pwebuts.sql

Skrip ini dijalanin di konsolenya MySQL lewat CommandPromptnya Windows (cmd). Sebelumnya skrip SQL untuk meng-Generate Database,Tabel dan isinya sudah saya siapkan sehingga nggak perlu repot waktu setupnya. Semua skrip sql itu saya simpan di file pwebuts.sql yang tersimpan di server s25 di lpkia. Isinya berupa sintak2 DDL & DML SQL. Lain waktu akan saya tulis mengenai tutorial SQL ini.

Beres. Langsung kebawah, nungguin mereka beres ujian selama kurang lebih 2 jam-an. Kebetulan ketemu sama mimi yang juga udah beres ujian. Ke kantin untuk makan (lagi) sambil nonton pertandingan PERSIB melawann… apa ya lupa. Saya nggak begitu konsen karena konsen makan….

Sekarang……… jam 09:56 PM
lg di kantor i-moov, nginep di kantor.. lagi badmood banget nih perasaan saya. NGgak jelas gitu deh… pokoknya… campur aduk. Yaudah deh, apa yang akan terjadi, pastinya kan terjadi. Biar waktu yang menghakimi.

June 13, 2007

Benci seperti ini

Filed under: Gak Jelas — satriadarma @ 3:57 pm

Hate this Pathetic !!

Tentang Masa Depan

Filed under: Curhat — satriadarma @ 9:10 am

Malam ini ada pembicaraan serius dengan Mas Bondan (temen kostan yg kamarnya didepan kamar saya, beliau baru aja melangsungkan pernikahannya hari minggu kemarin dan malam ini bercerita tentang pernikahannya). Tentang masa depan yang sekiranya akan saya raih. Masa depan yang ternyata memang tidak cukup hanya dibicarakan semata.. tapi juga harus direncanakan dengan matang sematang - matangnya. Tentang hidup dan bersatunya dua anak manusia didalam cinta. Abadi. Insya Allah, Amin.

Saya sering berfikir tentang kehidupan…. tentang apa yang akan saya jalani esok hari. Tapi tidak seperti malam ini. Perlunya waktu untuk merenungkan itu semua saya ambil malam ini. Perenungan itu bermula dari niat saya ingin menikah muda. Ini menjadi hal yang berkutat didalam otak saya akhir - akhir ini. Saat ini, usia saya baru 22 tahun. Usia yang masih sangat muda untuk menikah memang. Tapi entah kenapa, pikiran saya nggak bisa diabaikan begitu saja. Nggak bisa dipungkiri, lingkungan dan pendidikan yang membuat saya bisa berfikir dewasa seperti ini. (atau justru terlalu mengada - ada?). Di kantor saya dijuluki “Muka Boros”. Usia saya masih muda tapi temen2 yang ngeliat saya pertama kali selalu bilang kalau saya usianya 27tahunan… malah ada yang pernah bilang 30 tahun… malahan ada juga yang bilang sudah berkeluarga.. Hahaha.. setua itukah saya terlihat??

Dan ternyata menikah tidak segampang membalikan telapak tangan. Jelas. Tak juga semudah memikirkannya…. menikah bukan hanya emosi dan ego sesaat. Mempersatukan dua pribadi yang berbeda dalam jalan ibadah ini memang membutuhkan pemikiran yang benar2 matang. BENAR2 matang… saya menyadari itu. Tapi pada akhirnya hal itu tidak juga meluluhkan niat saya untuk menikah muda… Hendra, sahabat saya itu berencana bulan Agustus 2007 ini melamar pacarnya.. wew… keduluan deh.. dan bukan karena panas juga sih saya ingin ikut2an dia (padahal ada juga sedikit). Dulu waktu kita masih sama2 kuliah kita sering membicarakan tentang pernikahan…. menikah muda… Saya sendiri sampai heran, apa ini sudah menjadi tren gitu?? tapi ntah papa… saya hanya merasa ini bagian dari proses pendewasaan. Hal ini sempat kami (saya dan mimi) bicarakan dengan orang tua mimi dan berujung pada kesimpulan bahwa saya belum siap. (saat itu saya hanya bertanya - tanya: kenapa saya belum siap???? tidakkah mereka melihat bahwa sekarang saya sudah bekerja, mempunyai penghasilan dan worth it untuk dijadikan menantu). Tapi akhirnya saya menemukan jawabannya malam ini. Saya mengerti.

Masih banyak yang harus saya kumpulkan… keberanian (berani mengambil resiko), keikhlasan, dan yang pasti kebutuhan materi untuk pencapaian itu semua. Satu hal yang nggak perlu ditanyakan adalah Niat. Saya dapat katakan bahwa di bagian ini saya sudah benar2 matang… hanya saja waktu belum mengizinkan rasanya. Pemikiran itu akhirnya sampai kepada tahap2 puncaknya sehingga saya memutuskan untuk berhenti sejenak, menyatu bersama keheningan dimalam yang semakin larut dan menemukan jawabannya. Saya harus mempersiapkan segalanya dengan matang sehingga ketika semuanya tiba, saya sudah siap dengan sebenar - benarnya seperti niat saya yang menggebu - gebu ini.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk Mimi (Lavinnia Kartasentana).

Ketika waktu itu tiba, akan kujemput engkau dengan kesiapan mendekati sempurna… cinta yang mendekati sempurna, Niat yang mendekati sempurna, dan keikhlasan untuk hidup bersamamu dengan sempurna dijalan yang diridhoi-Nya …

June 10, 2007

disini… sendiri

Filed under: Curhat — satriadarma @ 4:29 pm

jam 23:32… masih nggak bisa tidur karena ….. males aja. Padahal besok harus berangkat pagi2 dan langsung ngantor lagi… skr lg ngeNet di komp nya papa.
kangen mimi….

tidur ah…

June 7, 2007

Waktu untuk dibagi - bagi

Filed under: Curhat — satriadarma @ 4:26 am

Jam 22:40, habis nganterin mimi pulang… sebelumnya habis nemenin dia rapat sama temen2nya di himpunan mahasiswa komputer. Waktu mau nungguin dikiranya bakalan bete, soalnya udah malem banget tadi, eh untungnya ada mahasiswa yg semester ini ke ajar sama saya. Namanya Cecep. Akhirnya kita ngobrol. Dia curhat gitu, tentang aktivitas dia yang rada - rada ribet karena dia kuliah sambil kerja (atau kerja sambil kuliah). Ya, intinya sih sharing aja bahwa ternyata “membagi waktu” itu sangat susah. Susah banget. Salah satu cerita lucunya adalah ketika dia pulang kerja (cecep kerja di YOMART) dan udah capek2 tapi tetep nyempetin dateng ke kampus untuk ikut perkuliahan. Mungkin karena kecapean, cecep “ngalenyap” (ketiduran) dikelas dan sempet lama banget tidurnya. Jadi nggak serius ngikutin kuliahnya. Tapi untungnya ada temennya yang baek dan ngebangunin dia waktu mata kuliah udah mo beres. Eh, nggak taunya waktu diabsen sama dosen yang bersangkutan dia malah dimarahin abis2an didepan kelas karena udah dia ikut kelas lain, trus dikelasnya malah tidur. Hahaha…. (yah namanya juga capek… habis pulang kerja, harus dengerin kuliah, teori lagi…). Tapi untungnya sang dosen berbaik hati dan akhirnya cecep bisa diabsen.

“Waktu bisa dibagi, tapi totalitas ?? sepertinya nggak akan pernah bisa terbagi “

Ini adalah topik yang “GUE BANGET” buat saya. Dulu, waktu saya ikut kelas ekstension (kelas karyawan) untuk ngambil S1 di STMIK LPKIA, saya mengalami hal yang sama. Saya kerja di perusahaan yang sekarang saya tempati (i-moov), kerja dari jam 8 - 5 sore, malamnya perkuliahan dimulai dari pukul 18.00 (jam 6) malam sampai dengan jam 9 malam. Wuih… bener2 persis dengan yang cecep ceritakan tadi. Saya sempet2nya tidur dikelas, dan terkadang juga malah bener2 tertidur. Hahaha… bukan contoh yang baik untuk ditiru. Tapi ini nyata. Hanya saja beberapa mata kuliah yang diambil waktu itu nggak semuanya boring, di mata kuliah yang saya sukai, saya nggak pernah ngantuk seperti PBO (Pemrograman Berorientasi Objek), KDKT (Kepemimpinan dan Kerjasama Team), atau mata kuliah RPL (Rekayasa Perangkat Lunak)… Mata kuliah yang terakhir ini teori, tapi karena waktu itu kebetulan di kantor lagi mau ada kenaikan jabatan (dan akhirnya malah nggak jadi) dari programmer ke system-designer saya jadi seneng sama mata kuliah ini.

sleepBerarti rasanya, waktu emang susah untuk dibagi - bagi. Seperti quote diatas… waktu mungkin saja bisa dibagi, tapi totalitas kita… kesungguhan kita terkadang sulit untuk dibagi. Pada akhirnya memang kita harus memutuskan yang mana yang harus dan akan menjadi prioritas utama kita dalam menjalani hidup karena tetap saja kita harus dihadapkan kepada 2 pilihan. Saat ini saya kerja di dua tempat… yang satu jadi Programmer, yang satu lagi ngajarin orang jadi programmer. Saya tau kemampuan saya terbatas, di kantor malah banyak yang lebih jago dari saya di bidang programming… “i’m just nothing lah”… like that. Tapi nggak pernah ngeberhentiin niat saya untuk bisa memberikan sesuatu kepada orang lain yang belum bisa. Dengan harapan, dia bisa mendapatkan sesuatu dari apa yang saya ajarkan. Contoh: bisa bikin program hingga akhirnya bisa dapetin duit dari situ.

Sekarang pertanyaannya:

“kenapa saya masih bertahan dengan dua pekerjaan ini?”

padahal kedua - duanya menuntut professionalisme kerja. Lalu apa saya nggak professional?? Wew, ini pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab. Saat ini saya masih menganggap pekerjaan saya mengajar di LPKIA menjadi sebuah kesempatan bagi saya untuk berbagi dan bertemu serta berinteraksi dengan orang banyak. Sementara, pekerjaan utama saya tetap yang ini. Kalau alasan yang “nyleneh”nya sih, ya.. saya tetep ngajar supaya bisa sering ketemu sama mimi. Logis juga tapi nggak semuanya benar. Uang bagi saya nggak terlalu jadi masalah walau sampai saat ini belum ada Motivasi lain selain uang yang membuat saya mau bekerja. (ini aneh, tapi kebanyakan orang belum bisa bekerja karena memang dia menyukai pekerjaan itu).

Suatu saat nanti pasti saya akan dihadapkan pada dua pilihan… tapi sekarang saya berjalan bersama waktu dan rutinitas yang masih saya usahakan untuk seimbang. Waktu yang ada… ya … waktu yang untuk dibagi - bagi. Pinter2 bagi waktu saya belum bisa… tapi menyiasati waktu… maksa2in dikit, Insya Allah bisa. Mudah2an ada jalan lurus bagi teman - teman, rekan kerja, siapapun yang sedang kesusahan membagi waktu. Amin.

Next Page »